-->

Tuesday, 14 December 2021

PAMERAN INSTALASI GILIS: MENEROKA TEKNOLOGI TRADISIONAL MADURA YANG TERSISIH


Ada sebuah teknologi tradisional Madura yang berperan membantu kerja domestik masyarakatnya terkait kebutuhan mengolah makanan pokok mereka yaitu jagung. Alat ini adalah gilis, sebuah penggiling jagung yang terbuat dari batu. Alat ini turun-temurun digunakan dalam keluarga Madura yang sayangnya kini gilis sudah tidak banyak digunakan lagi. Padahal gilis tidak saja berfungsi sebagai alat, namun juga sebagai tanda kemajuan berpikir manusia. Gilis mencerminkan hubungan manusia dengan alam, manusia dengan manusia, serta manusia dengan Tuhan.

 

Padepokan Seni Madura lewat dukungan Dewan Kesenian Jawa Timur melalui program Bantuan Komunitas membuat pergelaran Pameran Instalasi Gilis. Program ini juga masuk dalam program Biennale Jatim IX yang telah dilaksanakan pada 8 Desember 2021 di desa Mantajun, Sumenep, dengan menghadirkan instalasi gilis. Pameran dimaksudkan untuk menghadirkan kembali ingatan personal maupun koliktif masyarakat setempat dengan menghadirkan momen intim dari pertemuan material kultur gilis dengan manusia.

 


Anwari sebagai seniman penggagas membuat instalasi interaktif gilis yang dihadirkan di halaman panjang model rumah tradisi Madura yang biasa disebut taneyan lanjhang. Konsep instalasi gilis yang direncanakan awal memang sangat besar dengan mengumpulkan gilis-gilis yang tidak terpakai sekitar 150 gilis yang tersebar di rumah-rumah masyarakat. Acara ini pun direncanakan selama 3 hari, namun dengan minimnya dana yang didapat akhirnya diminimaliskan menjadi 1 hari dan menggalang berbagai dana dari berbagai pihak. Anwari berharap di tahun depan pameran instalasi gilis ini dapat diselenggarakan lagi dengan konsep yang ideal.

 


Pada akhirnya gilis-gilis tersebut dihadirkan dengan jagung yang siap digiling siapapun yang ingin mencoba. Namun bukan sekadar menghadirkan interaksi tersebut, pameran ini juga dijalankan dengan berbagai acara, di antaranya pertunjukan musik tradisi tong tong sebagai pembuka, interaksi ibu-ibu desa menggilis jagung, penyuguhan bubur jagung manis dari hasil penggilisan dan minuman khas desa yaitu pokak (gula merah dicampur sereh), pemberian santunan kepada 20 lansia, penayangan film Meditasi Ghulur karya Anwari dan film dokumenter D. Zawawi Imron berjudul Celurit Emas karya Rizky Julian Permana, serta ditutup pertunjukan topeng ghulur oleh Gerakan Anak Muda Mantajun (Gendam).[el]

 


 

 

Foto: ibu-ibu desa mencoba berinteraksi dengan instalasi gilis

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com