-->

Monday, 15 June 2020

CALIGULA (Sebuah Tafsir Ulang atas Naskah Karya Albert Camus)


PRESS RELEASE PERTUNJUKAN TEATER DIGITAL "CALIGULA" (Sebuah Tafsir Ulang atas Naskah Karya Albert Camus)


Kamateatra Art Project kembali bekerja sama dengan Teater Komunitas (Malang) dalam sebuah garapan pertunjukan teater digital berjudul Caligula. Pertunjukan ini merupakan hasil tafsir ulang Anwari sebagai sutradara atas naskah drama Caligula karya Albert Camus yang dirilis pada tahun 1938. Pertunjukan ini digarap dalam durasi pendek dengan mengambil gagasan yang cukup penting dalam naskah oleh sutradara dan merupakan pertunjukan tanpa kata oleh aktor tunggal.


Anwari memutuskan untuk menafsir ulang Caligula dalam pertunjukan teater digital durasi pendek karena selama ini sudah cukup banyak pertunjukan teater digital yang digarap secara eksperimental dari sisi penciptaannya, di pertunjukan ini ia sengaja mengambil bahan dari naskah besar yang sudah ada. Selain itu dengan menafsir ulang menjadi momen penting sutradara atas esensi sebuah naskah.

Albert Camus menghadirkan sosok seorang tiran yang terobsesi atas hal-hal di luar norma pada sosok Caligula. Ini tidak terlepas dari rasa duka yang dialaminya atas kematian sang adik yang begitu dicintainya. Duka ini tidak sekadar duka, namun membawanya pada pertanyaan atas esensi hidup, takdir, dan kematian. Eksistensialisme atas kehidupan dengan berbagai aspeknya (ekonomi, sosial, politik, ketatanegaraan, hingga kebudayaan) inilah yang kemudian menjadi landasan Anwari dalam menggarap pertunjukan ini.


Melalui pertunjukan tanpa kata oleh aktor tunggal, Anwari menghadirkan beberapa simbol yang dapat mewakili tentang eksistensialisme yang kemudian menjadi isu yang tidak terikat masa. Dimulai dengan seseorang yang duduk di meja makan. Tatapannya menyiratkan sesuatu, tidak hanya bayang kematian seseorang yang dicintainya. Ia kemudian makan kerupuk dengan rakusnya. Kehadiran kerupuk di sini mewakili ambisi yang tidak bisa membuat orang kenyang dan malah membuat semakin haus. Simbol lain adalah topeng yang kemudian dipakai si aktor tunggal. Di sini ia memakai topeng untuk menyembunyikan ketakutan besar dalam dirinya dengan membuat ketakutan pada orang lain.

Menyoal eksistensialisme dalam skala yang lebih luas sendiri dapat dijumpai dalam peran negara (dalam model apapun), di mana negara sebagai lambang otoritas tertinggi kerap melakukan pengendalian situasi massa dengan melakukan sejumlah kontrol. Di sinilah eksistensialisme dalam bidang ekonomi, sosial, politik, hukum, hingga kebudayaan akan secara masif mengikuti.


Kami berharap jika pertunjukan teater digital ini dapat dimaknai dalam konteks eksistensialisme yang luas dan tidak terbatas pada isu-isu tertentu. Simbol-simbol yang dihadirkan dalam lakuan aktor di sini sendiri hanya menjadi keran pembuka atas tafsir yang lebih luas.

Pertunjukan ini diproduseri oleh Elyda K. Rara dan diaktori oleh FN Bagaskara. Sebagai penata artistik adalah Bedjo Supangat, sebagai videografer adalah Sofyan Joyo Utomo, dan sebagai penanggung jawab logistik adalah Ken Nadya Anggraeni.

Pertunjukan ini akan dirilis pada Kamis, 18 Juni 2020, di akun YouTube Kamateatra Art Project pukul 20.00 WIB. Seperti biasa, kami menerima segala bentuk apresiasi atas pertunjukan ini (tulis maupun video) yang dapat dikirim melalui alamat surel kamateatraartproject@gmail.com. Kami juga membuka donasi bagi siapa saja yang ingin mendukung keberlangsungan proses berkesenian pertunjukan digital kami dan para seniman yang terlibat di dalamnya. Donasi dapat disalurkan melalui rekening BRI 223701004555505 atas nama Ken Nadya Ayu Anggraeni. Konfirmasi donasi dapat melalui nomor WA 082229562629.


Malang, 15 Juni 2020
Produser,

Elyda K. Rara



Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com