-->

Sunday, 7 June 2020

BACK TO BASIC MEMBERSIHKAN KETEGANGAN JIWA

"BACK TO BASIC" MEMBERSIHKAN KETEGANGAN JIWA


Oleh: Azizah Novi Amelia*


"Seni membersihkan kita dari debu-debu kehidupan setiap hari," kata Pablo Picasso, seniman terkenal tahun 1900-an. 

Ia berkata bahwa seni membersihkan debu, sama seperti apa yang dilakukan  Kamateatra Art Project dalam membersihkan ketegangan jiwa akibat pandemi Covid-19. Menanggapi dari karya-karya yang lahir di tengah pandemi, saya di sini akan melakukan review untuk salah satu video di channel YouTube-nya yang berjudul Back To Basic.

Video ini bisa dimasukkan dalam kategori short film, disutradarai oleh Anwari, dan Elyda K. Rara sebagai produser. Pada 3 menit pertama kita akan disuguhkan oleh pemandangan sawah dan seorang laki-laki muda tengah berlarian di atas beceknya tanah. Shooting kali ini dilakukan begitu total, sebab sang aktor benar-benar berdiri di tengah sawah dengan kondisi hujan natural, berpakaian jas rapi, dan tidak segan bermain-main dengan lumpur. Itu adalah bagian paling menarik, menurut saya.



Kedua, menilik dari gerak-gerik aktor yang cukup random, maka jelas sekali diperlukan ketelitian dalam mencermati pesan dari Back To Basic. Menurut perspektif saya, yang masih duduk di bangku sekolah, aktor berlarian kesana kemari menandakan ia bingung. Di menit pertama ia terlihat lesu dan murung, terduduk di atas meja lengkap dengan berkas yang basah. Di sini saya terkesima, sekali lagi karena totalitas properti. Pakaiannya boleh jas rapi, namun di tengah sawah, ia tidak lebih baik dari seorang petani. Maka dari itu Sang Aktor berlari, berjalan, mondar-mandir, tidak peduli jas yang kotor dan kaki penuh lumpur, beradaptasi.

Selanjutnya, setelah beberapa menit beradaptasi, ia mulai menemukan titik terang. Tangannya tergerak untuk mengambil rumput—yang disimbolkan sebagai padi dan sejenisnya. Ekspresi dan bahasa tubuh aktor benar benar terasa nyata. Lalu, terlihat ia mulai menanam di tanah. Perlahan tapi pasti, tokoh sadar harus berubah, harus bertumbuh.

Terakhir, aktor berjalan ke tepi. Di sana, terlihat sebuah tikar yang tergenangi air hujan dan satu balok kecil pelepah pisang. Entah apa maksudnya, tokoh merebahkan badan di atas tikar tersebut, pelepah sebagai alas kepala. Yang bisa saya artikan adalah, tokoh menunggu: menunggu hasil dari tanamannya. Sebab terdapat korelasi antara maksud saya dengan caption, "... hingga hasil dari proses tumbuh ini bisa dinikmati bersama."

Back To Basic juga menampilkan segi sinematografi yang apik, ditambah dengan kondisi yang sedang hujan membuatnya semakin dramatis. Musik yang tegang sepadan dengan akting aktor menjadi perpaduan yang cantik. Meski hanya satu tempat yang menjadi latar, transisinya mulus. Selain itu, peran dari aktor yang sangat memukau tentu akan menarik perhatian penonton terlebih pada kenaturalannya. Meskipun tidak semua penonton akan mendapat pesan yang sama dari karya satu ini, sebab selain tidak ada dialog dan banyak mengulang-ulang gerakan, ini tetap menjadi karya yang patut ditonton karena pesan moral yang dalam. Film pendek ini layak mendapat rate 8.9/10!



_______

*Penulis adalah kontributor Kamateatra Art Project. Aktif sebagai pengurus OSIS SMA Negeri 1 Lawang, anggota Teater Gema, dan ekstrakurikuler Debat.

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com