-->

Tuesday, 12 May 2020

PANDEMI PARANOID 19
SEJUMLAH WARNA DAN REALITA DARI PERTUNJUKAN "PANDEMI PARANOID 19" (Masih dari Sudut Pandang Anak SMA)

Oleh: Maulana Arif Wijaya*


Teater ini menceritakan kehidupan masyarakat Ketika dilanda pandemi. Pada adegan pertama, dilihatkan seseorang yang berusaha untuk menutupi mulut, hidung, dan telinga yang menyindir tentang bagaimana cara untuk menghindari virus. Lalu datang dua pria menggunakan topeng yang seolah-olah menjadi virus tersebut. Pada keramaian, terdapat banyak aktivitas warga yang dikelilingi oleh kedua pria tersebut atau virus, namun warga tidak peduli dengan kedua orang tersebut. Pada adegan ini, warna yang digunakan adalah hitam putih serta diberi tekstur film tua, menurut saya hal ini ditujukan untuk mengambarkan kegiatan yang sudah terjadi.


Adegan berpindah, muncul tiga orang yang terbungkus plastik. Barangkali ini dimaksudkan bahwa untuk bertahan hidup di luar rumah pada saat pandemi sangatlah susah atau menggambarkan susahnya petugas medis ketika menghadapi pandemi yang harus mengenakan APD.

Adegan selanjutnya menampilkan cuplikan berita yang menggambarkan banyaknya korban akibat pandemi ini. Selanjutnya kita diperlihatkan dengan seorang wanita yang sedang melihat berita tampak sedang ketakutan. Dia mengupas telur namun ketika setengah proses mengupas, dia memakan telur itu. Hal ini seolah–olah menggambarkan kondisi masyarakat ketika melihat berita yang asal telan tanpa disaring, sehingga membuat siapapun merasakan ketakutan. Cuplikan-cuplikan berita itu terus menerus muncul pada adegan ini yang bisa berarti keadaan di luar semakin memburuk serta pemberitaan media seolah-olah membuat warga menjadi lebih ketakutan. 

Kemudian muncul dua orang yang menghampiri si penonton berita tersebut dan mulai terpojok ketakutan. Dua orang itu duduk di sebelahnya sembari mengatakan “kecemasan, individualis, teror” seolah-olah menggambarkan perasaan semua orang ketika dilanda pandemi. Tak lama kemudian ada suara seperti “monster” yang dilanjutkan dari aksi orang-orang tersebut merasakan gatal-gatal, sehingga orang-orang tersebut berusaha menyingkirkan rasa gatal itu dengan menggaruk-garuk. Saya mengasumsikan rasa gatal adalah rasa trauma, lapar, dan takut di waktu yang bersamaan. Tak berhasil, orang-orang itu akhirnya membungkus dirinya dengan plastik dan adegan pun berganti. 

Setting tempat pada adegan ini menurut saya sangat bagus. Tempat dipenuhi oleh warna-warna suram dan menjijikkan seperti hijau tua, ungu , dan merah. Hal ini mendukung kesan paranoid yang ingin disampaikan dari teater tersebut. Selain itu, ruangan ini dipenuhi oleh garis polisi yang seolah-olah ruangan itu dikunci oleh pemerintah atau sering kita dengar dengan kata lockdown.

Adegan selanjutnya menunjukan dua orang pria yang sudah terbungkus plastik sedang menari-nari, lalu tak lama kemudian seorang wanita mengetuk-ketuk sebuah piring yang dipegangnya dengan menggunakan sendok. Hal ini menggambarkan tentang kehidupan seseorang yang tidak bisa bekerja dari rumah, tidak memiliki cukup uang untuk membeli makan sehingga kelaparan, namun diancam oleh pandemi jika pergi ke luar.

Selanjutnya, kita disajikan dengan pemandangan yang menyedihkan. Latar tempat pada adegan ini yaitu kuburan. Saya berasumsi bahwa, orang yang tadi mengetuk-ketuk piring meninggal lalu orang di sekitarnya menjadi depresi. Ini menggambarkan realita dunia ketika menghadapi pandemi. Ketika semua orang diimbau untuk berdiam diri di rumah dan bekerja di rumah, ada beberapa orang yang dilema karena pandemi. Seperti tokoh pada teater ini, ketika pekerjaan tidak bisa dibawa ke rumah. Yang bisa dilakukan hanyalah berdoa dan menunggu pandemi ini selesai. Namun karena tidak adanya bantuan pokok dari pemerintah, orang ini akhirnya meninggal dunia.

Adegan penutup dari teater ini adalah, kedua orang pria yang dekat dengan orang yang meninggal tadi menari-nari di kafetaria. Barangkali meraka menari karena reaksi dari tekanan yang diterima ketika pandemi menghentikan sebagian besar aktivitas manusia. Karena pada hakikatnya, manusia adalah makhluk hidup yang menginginkan kebebasan.

Hal yang menurut saya perlu diperbaiki pada teater ini adalah pengambilan gambar, karena ini merupakan teater daring, pengambilan gambar merupakan unsur yang sangat penting untuk menunjukkan kondisi dan suasana. 

Dari segi warna menurut saya sudah bagus, bisa menyampaikan emosi dari pemerannya. Secara keseluruhan, teater ini sudah bagus dan mampu mewakili perasaan masyarakat menengah ke bawah hingga menyindir pemerintah.


________

*Penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Lawang, sedang gemar dengan bahasa Jepang dan fotografi

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com