-->

Thursday, 28 May 2020

BACK TO BASIC
MENGULAS MAKNA ESOTERIS DALAM TEATER DIGITAL "BACK TO BASIC"


Oleh: Henry Anugerah Dharmawan*




Banyak inovasi yang digalakan para pemuda negeri ini dalam menghadapi pandemi. Salah satunya adalah pertunjukan teater digital yang memiliki kesan esoteris nan minimalis yang pastinya membuat para penikmat merasa penasaran. Teater digital dengan judul Back to Basic yang disutradarai oleh Anwari di bawah naungan Kamateatra Art Project ini berdurasi 7 menit 42 detik. Kesan video yang seolah tak bersuara ditambah dengan pemilihan lokasi yang sangat menyatu dengan alam membuat teater digital serasa memiliki suatu pesan tersirat bagi penikmat.

Dentuman backsound yang sesuai dengan alunan teater ini membuat kisah pada setiap detik cerita ini menjadi kompleks untuk ditafsir. Transisi yang tepat juga membuat cerita-cerita ini nampak begitu naturalis. Pemainnya pun sangat mendalami apa yang ia perankan. Sehingga mampu menunjukkan sisi pemikiran sutradara. Awal memasuki cerita kita disuguhkan dengan seorang yang berpakaian rapi duduk di tempat yang menunjukkan posisi, namun beberapa tugasnya tidak ia sentuh mulai dari pagi. Terbukti ia hanya duduk, diam, dan berpikir akan suatu yang sedang menguji bangsa ini.


Dilihat dari alur dan properti yang dikenakan bisa jadi sutradara ingin menunjukkan opini kritis tentang kebijakan PSBB di Indonesia. Latar tempat juga mendukung praduga saya sebagai pengulas, hal ini memperkuat argumen saya tentang maksud esoteris dari cerita Back to Basic ini. Negara agraris bukan sekadar julukan melainkan mayoritas mata pencaharian yang harus dilakukan guna menyongsong kegiatan ekonomi. Di cerita ini juga ditunjukkan bahwa pemeran menari di bawah hujan yang dapat diartikan “Ketika keadaan terasa sulit dan kita tidak ingin bergantung pada orang lain, ada jutaan hidup yang harus terus berjalan”.

Terlihat juga sang pemeran berlari lalu terjatuh, yang memiliki arti terus berjuang walaupun banyak rintangan. Mungkin problematika ini yang membuat gundah mereka (seorang yang harus menopang hidup 1 hari untuk kebutuhan 1 hari), PSBB bagaikan tembok penghalang di tengah pandemi. Pada menit-menit akhir digambarkan secara gamblang. Pemeran berjas tadi melepaskan jasnya dan tidur di hamparan keindahan alam. Di sini berarti kegiatan ekonomi mikro pun tetap berjalan, karena mereka butuh sesuap nasi untuk memulai kembali harapan.

Barangkali kebaikan dan keberanian mereka hanya tertulis di pasir pantai yang akan hilang karena deburan ombak di lautan. Namun bagi saya mereka adalah seorang pahlawan. Pahlawan ekonomi yang senantiasa berjuang memenuhi kebutuhan. Di saat pandemi seperti ini pasti timbul masalah yang mengatasnamakan ekonomi, tetapi kita harus ingat adanya revolusi membuat manusia berpikir dan bergerak kembali. Tiada kata terlambat untuk memperbarui diri dengan visi misi yang menunjang kemajuan bangsa ini. Jangan lupa saling berbagi untuk kuatkan pondasi dari para pendiri negeri.




______

*Penulis adalah pengurus OSIS SMA Negeri 1 Lawang, pegiat ekstrakurikuler Debat, 15 besar Putera Puteri Pendidikan Remaja Jawa Timur, dan semifinalis Duta Antinarkoba Kabupaten Malang 2019

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com