-->

Friday, 22 May 2020

RUANG BELAKANG
MEMBACA PERTUNJUKAN DIGITAL "RUANG BELAKANG" DAN KEDEKATANNYA DENGAN FENOMENA PENANGANAN COVID-19


Oleh: Myra Naida Putri*
 



Sebuah pertunjukan teater digital dengan judul "Ruang Belakang" yang disutradarai oleh Anwari di bawah naungan Kamateatra Art Project. Sebuah pertunjukan singkat yang menggambarkan keadaan para tim medis yang berjuang menyelamatkan orang-orang dari kehidupan pedih berkat si Covid-19. Pertunjukan singkat yang berdurasi 5 menit 14 detik ini, berisikan gambaran dan tulisan apa yang dirasakan oleh para tim medis yang berjuang bersama-sama untuk menyelamatkan jutaan nyawa manusia. 


Dilihat dari pemilihan properti yang sederhana ini menyimpan pesan yang lebih dari kata sederhana. Dimulai dari sebuah manekin yang diubah tampilannya seperti para perawat ataupun dokter yang ditemani oleh sebuah boneka bayi. 


Mereka berdua berada di dalam sangkar burung yang sempit dengan ukuran pintu yang kecil. Mereka seakan-akan dikurung di dalamnya, tanpa bisa keluar dari ruang itu. Ditambah dengan seorang bayi yang tengah duduk di depan pintu sangkar, seakan-akan ia sedang menunggu kebebasan seseorang dari dalam sangkar. Makna yang saya tangkap dari objek tersebut yaitu, para tim medis yang merawat dan menjaga orang-orang yang terkena virus corona dengan sabar seperti merawat seorang bayi yang lemah dan tak berdaya. Serta, banyak para pihak dari kerabat ataupun keluarga yang sedang menunggu kepulangan dari para pejuang di dalam rumah sakit. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menunggu dan mendoakannya.

Selain makna menakjubkan dari beberapa properti, Anwari berhasil membuat kita merasakan apa yang dirasakan para pejuang dengan menambahkan tulisan yang disuarakan  dengan menyorot objek per objek. Tulisan itu menceritakan keluh kesah para tim medis. Dimulai dari kebal dengan rasa lapar, tetap tersenyum walaupun menangis, menyanyi serta menari untuk menghibur diri, dan tidak berputus asa. Mereka sangatlah hebat, merawat dan menjaga banyak pasien dengan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) selama kurang lebih 8 jam tanpa bisa dibuka-buka karena pemakaiannya yang rumit dan berlapis-lapis. Bisa disimpulkan kembali bahwa selama 8 jam itu mereka menahan makan, minum, buang air, dan sebagainya. Mereka melakukan itu semua demi pasien dan mereka menggunakan APD juga agar tidak tertular, supaya tim medis tidak semakin sedikit jumlahnya karena meninggal berkat virus itu. Mereka juga bisa bosan dengan keadaan seperti itu, untuk menghilangkan rasa tersebut mereka bisa menyanyi ataupun menari untuk menghibur dirinya sendiri ataupun para pasien. Mereka juga tidak boleh berputus asa dan menangis, karena keluarganya sedang mendoakan dan merindukan kehadirannya.

Jasa mereka akan dikenang selamanya, entah dibukukan atau sebagainya. Sejarah baru telah tertulis. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita semua bisa menjalani aktivitas seperti biasanya. Jangan lupa, tetap di rumah saja dan jangan keluar jika tidak penting. Karena, dengan kita tetap di rumah saja kita sudah mengurangi beban dari para tim medis. Jika keluar rumah, jangan lupa memakai masker dan jangan lupa cuci tangan.


______

*penulis adalah siswa SMA Negeri 1 Lawang

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com