-->

Sunday, 3 May 2020

MEMBACA DARI SEKELUMIT SISI PSIKOLOGI

MEMBACA "PANDEMI PARANOID 19" DARI SEKELUMIT SISI PSIKOLOGI


Oleh : Laras Safa*


Menghindari rasa sakit, ancaman, bahaya, kegelisahan dan ketidakpastian adalah kodrat yang secara psikologis dilumrahkan terjadi pada manusia. Berangkat dari fenomena social distancing pandemi corona, “Pandemi Paranoid 19" dimulai dengan gerak simbolis yang menarasikan bagaimana paranoid corona datang dan menjajah. Telapak tangan yang digerakkan menghadang bibir dan telinga diikuti manusia bertopeng yang merangkak berekspolorasi di jalanan desa, pada titik temu yang berusaha mengenal tentang sesama manusia dan benda mengimplisitkan fundamental yang kokoh dari arti sebuah kontrol dan kekuasaan. Kontrol dan kekuasaan tersebut dengan tenang dinarasikan melalui lakuan manusia yang terus berjalan tanpa konsistensi persinggahan, terus mengendus tanpa mengecap, terus menyentuh tanpa mengambil. Manusia-manusia yang dengan sadar mendekat namun tak ragu untuk menjauh. Jika lakuan manusia konsisten dipergerakkan namun dalam tabir yang ambigu, lantas kontrol dan kekuasan siapakah yang berseru?


Pertunjukan digital yang diproduseri oleh Elyda K.Rara dengan durasi 17.12 ini adiktif untuk membuat penonton bertanya-tanya pada setiap latar peristiwa. Meski pertanyaan yang ada kerap terjawab pada latar peristiwa lanjutan, namun pacuan pertanyaan yang beruntun menuntun keinginan untuk lebih menyelami. Menit 3.08 merupakan skenario yang sangat epik terlebih dalam pemilihan media plastik yang menyelimuti tubuh para manusia yang tengah berjalan. Ekspresifitas aktor yang memukau membuat saya terhentak sadar bahwa plastik yang fleksibel tetap dapat menyiksa sebab pandangan akan mengabur, nafas akan menyesak dan gerak akan terhalang. Bagaimanapun juga, plastik tetaplah plastik yang tidak paten untuk dilangkahi dan ditinggalkan. Jika kontrol dan kekuasaan yang membelenggu manusia direpresentasikan dengan plastik, lantas mengapa begitu sulit untuk memberontak dan pergi?

Lagi-lagi “Pandemi Paranoid 19” membuat saya terjebak untuk lebih menyelami. Latar peristiwa yang disetting dengan caruk maruk kegelisahan bersorotkan manusia yang duduk menyendiri di kegelapan dengan memakan cangkang telur diselingi berita media massa, menjawab pertanyaan saya. Adalah media massa, dialah pemerintah yang mendalangi kontrol dan kekuasaan. Latar tempat yang dipenuhi garis polisi membuat saya memahami bahwa fleksibilitas gerak yang terkesan dapat dimiliki di area tertutup tidaklah berguna sebab kesan hukum yang mengikat dan mengancam terlanjur mengakar. Skenario manusia yang dengan sukarela membungkus anggota tubuhnya dengan plastik bahkan di area yang tertutup sekalipun, membuat saya berpikir apakah kontrol dan kekuasaan yang mulanya diniatkan dengan baik telah melangkah terlalu jauh? Perut semakin miskin nutrisi sebab gerak laku terbatasi. Kehampaan fisik konon tidak masalah selama keselamatan bersama tetap teguh berdiri. Namun bukankah social distancing yang dipatenkan setiap hari juga membuat para manusia hilang harga diri dan tak manusiawi? Skenario saat manusia berbalut plastik menari bahagia membuat saya terhentak kedua kalinya menyadari betapa mudahnya kita merasa aman dan baik-baik saja. 

Scene 12.57 di saat para manusia berbalut plastik merangkak, menyentuh dan merogoh-rogoh makam mengaliri diri saya bahwa kematian akan tetap ada di sana. Selagi social distancing berlomba-lomba dimenangkan, kita nyatanya lebih dari sekedar kehilangan mata pencaharian melainkan menguburkan diri melepas kemanusiaan, toleransi dan tolong menolong. Sebuah penutup latar peristiwa yang luar biasa bahwa meski raga aktif bergerak merangkak namun jiwa telah gugur terkubur. Kesatuan telah memisahkan diri namun kita tetap bangga dan merasa berdikari, betapa pesan yang sangat realistis, mengaduk emosi dan menggaduhkan diri. Menonton digital theatre ini betul-betul menampar indera, membuat siapapun yang menonton dengan akal dan naluri akan merasa aman dengan jauh lebih manusiawi. Karya yang luar biasa.

Ciri khas Kamateatra Art Project dengan teater geraknya tetap mampu menarasikan pesan dengan sangat optimal. Alur cerita yang dihantarkan dengan ritme yang tenang namun kaya akan simbol dan emosi betul-betul adiktif menarik perasaan. Pemilihan latar yang simple dipadukan dengan media yang ekspresif dan editing yang on point membuat karya ini terasa begitu mahal.  Bagian paling memukau adalah tentang bagaimana pesan dari masing-masing skenario dialirkan dari satu sisi ke sisi yang lain dengan skema emosi yang semakin intens dan logika yang menggeliat menerka. Sudut pandang karya sangat berkelas, realistis namun tidak pasaran. Judul yang dipilih saya rasa juga sangat cocok merepresentasikan isi dari digital theater ini. “Pandemi Paranoid 19” dengan kokoh menyadarkan penonton bahwa barangkali manusialah yang telah terjera untuk menjadi penyakit dan saling menyakiti. Manusia pun bisa menjadi pandemi yang menakutkan mengalahkan ketakutan akan virus itu sendiri. Karya ini luar biasa. Namun besar harapan saya agar di masa depan karya ini dapat berkembang menjadi semakin kompleks dengan membawa sudut pandang pemerintah yang mendalangi seluruh kontrol dan kuasa. Saya rasa titik temu yang meleburkan caruk maruk antara pandemi paranoid di mata pemerintah dengan rakyat akan menjadi maha karya yang lebih menyeluruh dan utuh.


________

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Psikologi - Universitas Brawijaya

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com