-->

Thursday, 2 April 2020

TEATER ANAK KAMATEATRA DAN DINAMIKA CANDU GAWAI ANAK-ANAK
TEATER ANAK KAMATEATRA DAN DINAMIKA CANDU GAWAI ANAK-ANAK 
Oleh: Azizah Novi Amelia*

(foto: kegiatan Lomba Mewarnai Kamateatra Art Project, dokumen pribadi Kamateatra Art Project)

***

Dewasa ini sering kita jumpai insan dari yang muda hingga renta, berkutat asyik dengan kotak persegi panjang pintar bernama gawai. Teknologi yang semakin menjulang memaksa manusia untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Yang dulunya menatap muka dari jarak jauh hanya sekadar cebol nggayuh lintang, namun sekarang hal tersebut sudah menjadi suatu kelumrahan pada petangnya malam maupun teriknya siang. Seperti yang sudah disinggung di awal, bahwa kebiasaan terpaku pada gawai bercahaya sudah menjadi kebiasaan di kalangan masyarakat. Namun hal ini akan menjadi suatu gawat, apabila terus mengakar naik tingkat sebagai kebudayaaan. 


Mendengar budaya teknologi memang sungguh menggiurkan. Canggih, praktis, dan membabat waktu. Namun satu hal yang perlu mendapat perhatian lebih adalah antara kita yang mengontrol teknlogi atau teknologi yang mengontrol kita. Sebagai contoh, pemandangan sekitar yang nampak adalah banyak anak menundukkan kepalanya untuk bermain dengan gawai. Terbesit rasa gemas, menonton anak sedini itu sudah pandai menggunakan teknologi. Anak semakin didukung oleh orang tua untuk tetap bergumul dengan ponsel pintar. Miris, jika orang tua membiarkan anak mereka mengakses internet tanpa pengawasan. Ingin hati merasa bangga, namun sebenernya capaian buah hati anda belum seberapa, bunda. 

Sering kita jumpai sebuah fenomena sosial yang bisa ditangkap di mana mana, salah satunya anak terkena darurat etika. Merupakan suatu rahasia umum bahwa negara ini tidak kurang intelektual, tetapi persediaan moral yang hampir habis. Bahkan ketika negeri sudah kritis akan tata krama, masyarakat masih menghiraukan panggilan ibu pertiwi untuk segera berbenah diri. Parahnya, tidak hanya manusia dewasa atau remaja, tetapi anak anak pun sudah banyak yang terjangkit racun ini. 

Maka impian untuk melihat anak bermain di tanah lapang dengan gembira, senyum tulus yang menandakan ia puas dengan masa kecil yang menyenangkan seperti hanya menjadi bunga tidur bagi orang tua. Lalu, dilihat dari generasi darurat etika seperti ini, mampukah Indonesia menjadi bangsa yang memanusiakan secara adil dan beradab? 

Adalah Kamateatra Art Project, dengan tanah lapang bersuasana alam sebagai tempatnya. Terletak di Jalan Klampok, Gang Anggrek, Singosari yang dinamakan Kamateatre Art Space. Merupakan sebuah perkumpulan yang memiliki program Kelas Teater Anak Kamateatra di akhir tahun 2019 yang mencoba menjawab masalah darurat etika. Dengan menyisakan 120 menit tiap minggu untuk meletakkan gawai dan menggantinya dengan berteater, merupakan tahapan tahapan dari sekolah teater anak satu ini. Salah satu goals dari program ini adalah adalah para peserta di sini akan menyajikan sebuah pertunjukkan dalam 3 bulan proses berlatih. Target penembakan adalah anak-anak dengan kisaran umur 4—12 tahun. Namun tentu program ini masih berupa langkah kecil dan berat. Apakah pada akhirnya mampu menjadi tawaran?  

Dengan tujuan yang dimaksudkan menjadi ideal, projek teater anak ini tidak serta merta berjalan mulus. Halangan dan hambatan mulai bermunculan di sana sini sejak pertemuan pertama hingga di akhir program. Elyda K. Rara, salah satu pencetus proyek ini bahkan melakukan promosi dari pintu ke pintu di lingkungan sekitarnya pada minggu pertama dan kedua, dibantu oleh dua anak-anak peserta kelas teater anak. Tentu tidak ada perjalanan tanpa kerikil yang menyandung. Mereka (anak-anak ini) enggan untuk memperhatikan seruan Elyda dan malah sibuk menunduk ke gawai masing-masing. Para ibu kebanyakan juga hanya pasrah dan membiarkan anak-anaknya. 

Apakah kelas teater anak ini pada akhirnya dibubarkan di tengah jalan? Tidak. Meski jumlah peserta yang mendaftar belum memenuhi kuota yang diberikan, namun para pengurus Kamateatra Art Project beserta pelatih kelas berkomitmen untuk melanjutkan proyek ini hingga pentas. Mengingat sejarah teater anak di Malang (kabupaten tempat Kamateatra Art Project berdiri) belum pernah ada. Ini adalah kerja yang membutuhkan napas panjang. Namun selagi aktivitas itu berhubungan dengan anak-anak, bukankah selalu membikin bahagia?


_______

*Azizah Novi Amelia adalah siswa SMAN 1 Lawang dan kontributor Kamateatra Art Project

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com