-->

Thursday, 2 April 2020

STRATEGI SENI PERTUNJUKAN DI ERA DIGITAL
STRATEGI SENI PERTUNJUKAN DI ERA DIGITAL

Gagasan: Anwari*
Penulis: Elyda K. Rara**

.    (ilustrasi: vilans.nl)


Saat ini kita sedang larut dalam gelombang revolusi digital, atau dalam bahasa yang lebih populer adalah Era Revolusi Industri 4.0. Berbagai bidang sudah mulai menyesuaikan diri dengan serangkaian inovasi kreatif melalui pemanfaatan teknologi. Kesenian adalah salah satu bidang yang cukup berdampak dalam gelombang arus revolusi ini. Kalau dulu orang mementaskan pertunjukan harus melalui panggung dengan penonton yang hadir secara langsung, sekarang orang dapat menonton pertunjukan kapan saja tanpa harus hadir di gedung pertunjukan lewat media sosial seperti youtube, instagram, atau facebook yang dapat diakses melalui gawai masing-masing. Praktis dan murah.

Namun apa lantas sebagai pelaku seni pertunjukan yang bisa dilakukan hanyalah dengan memberi alternatif ruang baru  atau menggeser ruang pertunjukan? Apa lagi tantangan di bulan-bulan awal tahun 2020 ini segala bentuk pertunjukan langsung harus dibatasi bahkan dibatasi lantaran pandemi Covid-19. Para pelaku seni pertunjukan berbondong-bondong menggelar pertunjukan atau diskusi seni dengan siaran langsung dari instagram hingga youtube. Ini kreatif tapi tidak cukup.

Menghadapi era digital mengharuskan kita untuk berpikir inovatif, kreatif, dan produktif. Memanfaatkan teknologi secara maksimal pun tidak harus menunggu pandemi Covid-19 atau mungkin kondisi darurat lain yang sejenis. Media sosial telah membuka ruang seluas-luasnya pada kita untuk melakukan hal-hal yang melampaui pertemuan secara langsung bahkan yang berkaitan dengan efisiensi waktu. 

Dalam kaitannya dengan seni pertunjukan hal pertama yang bisa diinovasi adalah berkaitan dengan kantong pendanaan. Jika sebelumnya dan barangkali sampai sekarang sumber dana untuk gelaran pertunjukan adalah seputar dari pemanfaatan dana hibah dari program pemerintah, sponsor, donatur, atau penjualan tiket pertunjukan, di era digital ini kita bisa mencoba alternatif kantong lain. 

Saat ini youtube menjadi perusahaan media sosial yang berkembang cukup pesat dan dimanfaatkan orang untuk berbagai hal. Karena ketergantungan dan minat yang cukup besar pada media sosial ini maka sejumlah apresiasi (hadiah) pun diberikan. Mulai dari pemberian plakat emas hingga pemberian uang dalam jumlah yang cukup besar. Sejauh ini kita tahu bahwa ada banyak orang yang menumpukan penghasilannya dari membuat konten-konten yang sesuai dengan minat masyarakat dan mengumpulkan penghasilan dari youtube. Hingga ada pemikiran baru bahwa kini cita-cita anak-anak mulai bergeser menjadi seorang youtuber. 

Sebenarnya sudah banyak pelaku seni yang memanfaatkan youtube sebagai media mencari penghasilan dalam hal finansial, namun ada sisi yang barangkali belum dipahami masyarakat seni secara umum bahwa sebenarnya hal ini bisa dijadikan untuk menyokong biaya produksi pertunjukan. Tentu dengan persiapan alat dan manajemen pemasaran yang cukup serius, sebuah kelompok seni pertunjukan dapat hidup mandiri dengan penghasilan dari youtube tanpa harus selalu mengandalkan sokongan dana dari hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika suatu hari orang menonton sebuah pertunjukan tidak lagi mengandalkan pembelian tiket, namun dengan mengikuti akun (subscribe) dan menyukai (like) unggahan kontennya.

Namun tentu bukan berarti kita memanfaatkan youtube atau media sosial lain semata-mata untuk mendapat penghasilan finansial. Poin penting kedua adalah pertunjukan didekatkan dengan masyarakat dari segala kalangan. Jika selama ini pertunjukan, terutama pertunjukan-pertunjukan teater yang dianggap hanya milik kalangan tertentu, sering hanya dikonsumsi oleh kalangan-kalangan tertentu saja, maka melalui sebaran di media sosial bisa menyasar segala kalangan. Tentunya dengan strategi-strategi pendekatan atau pengenalan yang efisien. 

Seni pertunjukan bagaimana pun hakikatnya lahir dari masyarakat, maka sudah sewajarnya masyarakat dapat mengakses segala macam kehadirannya. Jenis-jenis pertunjukan yang dianggap “berjarak” akan menjadi biasa berterima di segala kalangan. Dengan dinamisnya pergerakan persebaran seni pertunjukan lewat media sosial, maka ada banyak proses yang terjadi selain rekreasi atau hiburan dan ekonomi. 

Salah satu contoh menarik adalah proses edukasi seni pertunjukan lewat media sosial. Dalam dunia pendidikan ada beberapa materi berkaitan dengan seni pertunjukan dalam pelajaran bahasa Indonesia dan seni budaya. Pelaku seni pertunjukan bisa melakukan kerja sama dengan guru yang bersangkutan untuk berkolaborasi dengan cara memberi rekomendasi kanal youtube atau media sosial lain yang memuat video karya seni pertunjukan atau proses seni lainnya dari si pelaku seni. Video-video tersebut dapat dijadikan media pembelajaran yang cukup efektif. Mengingat adanya kedekatan komunikasi yang telah dibangun antara pelaku seni dan guru, komunikasi antara pelaku seni dengan siswa pun dapat dibangun lewat percakapan yang dilakukan lewat media-media daring.

Proses yang kemudian mengikuti adalah literasi digital, di mana siswa melakukan proses pengkajian pengetahuan seni melalui video dari media internet (digital). Pengkajian ini paling tidak bermuara para diskusi bersama dalam kelas, pembuatan resensi pertunjukan, menceritakan kembali isi video, sebagai sarana mengambil gagasan berproses kreatif, hingga penulisan esai atau ulasan yang lebih serius. Hasil dari proses-proses tersebut juga bisa diwujudkan dalam bentuk video apresiasi atau tulisan yang dimuat di situs-situs pembelajaran daring. Dan sekali lagi proses apresiasi karya bisa terus berputar. Jadi ada banyak proses pembelajaran yang dapat dilakukan antara guru, siswa, sekaligus seniman di sini. Proses berkesenian berjalan seiring dengan literasi digital.

Proses edukasi seni pertunjukan sendiri tidak saja bisa dilakukan dalam ranah pendidikan di sekolah, namun dalam ranah yang lebih luas juga bisa menjadi sarana transfer pengetahuan kesenian yang lebih masif mulai dari antarkelompok seni dalam negeri hingga mancanegara. Tidak dimungkiri juga jika pada akhirnya era digital menjadikan revolusi berkesenian menjadi sangat cepat saat para pelaku seninya secara aktif dan kreatif memanfaatkan berbagai momentum yang ada.


Malang, 2 April 2020


___________

*Anwari adalah seniman serta pendiri Kamateatra Art Project dan Padepokan Seni Madura
**Elyda K. Rara adalah penulis dan pengajar, serta Direktur Kamateatra Art Project

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

2 Comentarios:

  1. Sebagai orang yang pernah tumbuh di teater, gagasan ini menarik. Ini karena sejauh pengamatanku yang mungkin sudah tak lagi jeli dengan dunia seni, di sekitar kita belum ada yang benar-benar serius menjawab tantangan seni pertunjukan di era digital. Era yang membuat segalanya seolah-olah bisa dilakukan secara 'online' dan mulai mengabaikan cara-cara 'onsite'.

    Tapi pertanyaannya, apakah benar-benar bisa menggeser sensasi melihat peluh, desah nafas, dan dorongan emosi manusia nyata dalam panggung ke dalam medium digital yang berjarak?

    ReplyDelete
  2. Pemikiran yang menarik

    ReplyDelete

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com