-->

Tuesday, 28 April 2020

BUMI KINI DIBERSIHKAN
(Sebuah Pembacaan Karya PANDEMI PARANOID 19)
Oleh: Farmasita Nabila*


Sekitar 1 abad telah berlalu semenjak pandemi Flu Spanyol pernah berkunjung ke bumi. Kini, dunia harus menghadapi kembali peristiwa tahun 1918 itu. Nusantara yang sempat meremehkan, kini turut gelagapan. Teater berjudul Pandemi Paranoid 19 begitu mampu menggambarkan tragedi batasan sosial, kesulitan ekonomi, keterpurukan, dan ketakutan di seluruh dunia. “Jangan-jangan saya sudah terinfeksi, jangan-jangan sebentar lagi saya mati”. Setiap hari dihiasi oleh berita – berita kengerian, padahal tubuh butuh ketenangan, untuk menjaga kekebalan. Stress dan ketakutan justru mampu memengaruhi imunitas tubuh dalam melawan. 


Namun memang siapa sangka, tahun ini dunia harus jalani keterbatasan berinteraksi, membawa manusia pada kehidupan digitalisasi. Physical distancing dan PSBB telah digencarkan. Teater Pandemi Paranoid 19 bahkan telah mencontohkan, dunia harus serba digital dan siklus kehidupan harus tetap berjalan dengan caranya. Tangan dan kaki yang dulu mampu menggiring untuk berinteraksi sosial, kini hanya terpaku dalam keterbatasan. 

Para peneliti, tenaga medis, tenaga kesehatan, pemerintah, dan semua yang ada dalam ranah ini, harus jungkir balik siang malam untuk memecah teka – teki virus yang “dikatakan” dari kelelawar Wuhan. Vaksin sedang dirancang, obat – obat dicobakan, regulasi pun menyesuaikan. Chloroquine, Remdesivir, Lopinavir, apakah bisa menyembuhkan ? Belum tentu, semua hanya berpotensi. Masker dan hand sanitizer bahkan mampu mengubah gaya hidup manusia, kebersihan menjadi nomor satu.

Teater Pandemi Paranoid 19 mampu membuat penonton terasa, gambaran virus corona di mana-mana. Membuat masyarakat begitu parno untuk keluar rumah jika tak terdorong kebutuhan. Penelitian telah menuturkan, virus corona mampu hidup di udara, plastik, kaca, kayu, kertas, hingga berjam-jam. Di udara pun selama tiga jam, sedang kitapun tidak tahu, ada berapa strain virus corona di luar sana dan para ODP juga PDP, bak angin yang tak dapat dipandang.

Korban harus berjuang sendiri dalam ruangan sepi yang terisolasi. Melawan sesak napas, saraf indra yang mati rasa, tidak ada keluarga, kesakitan sendiri. Bahkan saat meninggal pun, tidak ada yang boleh menengok, jasad ditangani sesuai aturannya, dimasukkan peti, dan dikuburkan tanpa kehadiran yang tersayang. Kesakitan sendirian hingga matipun sendirian. 

Sebab itu, buka mata dan lakukan yang terbaik. Syukuri napasmu yang masih bisa menghirup panjang dengan lega. Hentikan semua kebiasaan buruk, sebab kali ini, kisah pandemi 1918 bukan cerita lagi.
Namun, cobalah tengok ke jendela, pandangi langit detik ini, dunia sedang dibersihkan, alam butuh keseimbangan, dan ujian bagi setiap insan. Kita yang dulu tidak peduli, kini harus berintrospeksi. Manusia dari garda terdepan hingga kelanjutannya, harus bergotong royong  untuk kuatkan diri. Sebab bisa jadi, ke depan akan diserang kembali. 


_____

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Farmasi - Universitas Brawijaya

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

2 Comentarios:

  1. Mantab sekali! Buat pementasan sendiri, dikomentari sendiri, dan dibagikan sendiri. Kelihatan sekali narsismu Anwari. Semoga untuk ke depan karyamu bisa lebih besar daripada narsismu.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentarnya, Sahabat... Namun perlu dipahami bahwa kami di sini bekerja secara berkomunitas bukan atas nama individu. Juga ada ranah yang sangat berbeda antara kerja tim kreatif dengan tim manajemen. Semoga dapat dimengerti jawaban kami.

    Salam,
    Admin

    ReplyDelete

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com