-->

Wednesday, 22 April 2020

ANTROPOSEN
(Sebuah Pembacaan Geologis dari Pertunjukan Pandemi Paranoid 19)
Oleh: Julius Arya*


Pandemik COVID-19 ini terlihat seperti kondisi dimana manusia secara kolektif sedang mencicipi sedikit dari proses alam. Teater yang berjudul Pandemi Paranoid 19 itu layaknya sebuah teaser pembuka terhadap sesuatu yang lebih besar. Alih-alih menggoda penontonnya, teaser tersebut justru menawarkan kengerian yang mampu diberikan oleh alam di dalam dunia manusia modern. Tingginya densitas dan populasi manusia saat ini membuat pengandaian Corona sebagai monster adalah tepat deskripsinya. Namun, ada sesuatu yang lebih dari sekedar monster jika kita membuka pandangan kita lebih luas lagi, yakni seekor spesies binatang bernama Homo sapiens.  


Homo sapiens menilai bahwa fenomena pandemik ini adalah sebuah kesalahan teknis, sesuatu yang seharusnya dapat dikontrol atau direkayasa. Sehingga tidak mengherankan jika spesies ini yang diwakili oleh “Pemerintah” di seantero dunia sekarang sedang memutar otak dalam rangka memanipulasi proses alam ini. Sebenarnya situasi ini bukanlah sesuatu yang mengagetkan jika kita menoleh ke belakang selama kurun waktu 4,5 Miliar eksistensi Bumi. Sejarah geologi menceritakan bahwa hanya ada satu spesies binatang yakni Homo sapiens sajalah yang secara digdaya mampu merekayasa alam serta menjadi agen tunggal perubahan ekologis. Alih-alih menyesuaikan diri terhadap alam, manusia justru secara arogan memaksa alam menyesuaikan diri terhadap manusia. Seolah-olah manusia telah menjadi tuhan bagi binatang dan tumbuhan, sayangnya ia bukanlah tuhan yang maha rahim dan penyayang. 

Pemaksaan terhadap alam oleh manusia ini menyebabkan meningkatnya perkiraan punahnya Homo sapiens dalam waktu dekat. Perlu diketahui, sejarah Homo sapiens sangatlah singkat dibandingkan dengan spesies lainnya dalam rekaman fossil geologis. Alam dengan siklusnya menyapu habis suatu spesies dalam tiap jangka waktu tertentu, namun celakanya seharusnya tidak secepat jangka waktu kehidupan manusia modern di bumi yang baru berusia 200.000 tahun. 

Pandemik ini hanyalah satu dari sekian banyak halaman bertinta warna dalam buku yang harus dibaca oleh manusia sebelum dihabisi oleh alam. Mirisnya, buku yang dibaca oleh manusia saat ini adalah buku karangannya sendiri. Perlahan tapi pasti, Homo sapiens menyelesaikan simpul tali untuk menggantung dirinya sendiri. 


______
*Penulis adalah mahasiswa jurusan Geologi - Universitas Indonesia

Menyoal wacana, pertunjukan, dan apresiasi seni pertunjukan kontemporer di sekitar kami

0 Comentarios:

Post a Comment

Hubungi Kami

telepon :

+62 819 9919 4797

Alamat :

Perum Shingasari No 4B
Malang

Email :

kamateatraartproject@gmail.com